Dessy Ayutrisna Hadiri Malam Renungan Kudatuli Di Titik Nol kilometer Kota Pangkalpinang
- account_circle EdonkRedaksi
- calendar_month Rab, 29 Jul 2026
- visibility 43

Peringatan Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 di Titik Nol Kilometer Kota Pangkalpinang, menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan demokrasi Indonesia. Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Cece Dessy, yang hadir mewakili Wali Kota, mengajak masyarakat agar tidak melupakan sejarah sekaligus menjaga demokrasi tetap berjalan dalam semangat persatuan.
Wakil Wali Kota, Cece Dessy mengatakan, peristiwa Kudatuli menjadi pengingat bahwa sejarah memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa. Karena itu, nilai-nilai demokrasi harus dijalankan secara santun dan bertanggung jawab.
“Kita memperingati Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996. Dari sejarah itulah kita belajar. Seperti pesan ‘Jas Merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Peristiwa Kudatuli mengajarkan kita tentang demokrasi,” katanya.
Ia berharap kehidupan demokrasi di Kota Pangkalpinang maupun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus tumbuh dalam suasana yang damai dan menghargai perbedaan.
“Saya berharap kita bisa menjalankan demokrasi dengan santun, dengan baik, serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan, khususnya di Kota Pangkalpinang dan Bangka Belitung,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai perjalanan demokrasi Indonesia yang hampir memasuki tiga dekade era reformasi, Cece Dessy menilai demokrasi merupakan proses yang terus berkembang dan membutuhkan penyempurnaan.
“Tentu ini sebuah proses menuju semakin baik. Dalam demokrasi pasti ada tantangan, ada perbedaan pendapat. Namun semuanya harus tetap berada dalam koridor untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbedaan bukan untuk memecah belah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bayu, mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga demokrasi tanpa kekerasan. Menurutnya, kebebasan berpolitik dan menyampaikan pendapat harus tetap berjalan dalam suasana yang damai.
“Tidak ada lagi kekerasan dalam demokrasi. Mari kita rawat demokrasi bersama-sama. Kita kawal demokrasi dengan kebebasan berpolitik dan kebebasan bersuara secara bertanggung jawab,” ujar Bayu.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang terus mengawal kehidupan demokrasi melalui kerja-kerja jurnalistik dan penyampaian informasi kepada masyarakat.
- Penulis: EdonkRedaksi

Saat ini belum ada komentar